5 Mei 2009 - oleh Tenzin Namgyel dari Kuensel (Bhutan)
Memandang Katmandu yang padat dan berdebu di Nepal terdapatlah Druk Amitabha Mountain di mana sekitar 300 bhiksuni menetap, kebanyakan dari Ladakh, Vietnam, Himalchal Pradesh dan Tibet. Namun ada seorang yang berasal dari Bhutan. Dan ia berada di rumah di sini.
Sonam Wangmo, 31 tahun, dari Sherimukhung, Mongar, kepalanya tercukur bersih, bercampur dengan para bhiksuni lainnya, melafalkan doa, dan berbagi canda tawa ringan saat tidak sedang membaca sutra. Ia menamatkan studinya dari Sherubtse College dengan predikat Honors dalam bahasa Dzongkha. Namun hatinya tertambat pada Buddhisme. Ia ingin menjadi seorang bhiksuni. Suatu periode singkat di layanan masyarakat yang tiada harapan meyakinkannya lebih lanjut. Ia meninggalkan pekerjaannya pada tahun 2005 dan bergabung dengan Druk Amitabha Mountain yang dikelola oleh His Holiness Gyalwang Drukpa.
“Saat ini seharusnya saya telah menjadi seorang praktisi yang baik jika saja orangtua saya mengirimkan saya ke biara bhiksuni ketika saya muda,” ujar Sonam Wangmo. Akan tetapi, ia yakin bahwa ia belum terlalu terlambat. “Sudah menjadi jalan hidup saya sehingga saya memilih mata kuliah Dzongkha. Mata kuliah itu memperkenalkan saya pada sejumlah realitas sudut pandang yang sungguh dalam tentang Buddhisme.”
Sonam menghabiskan waktunya bermeditasi dan belum pernah pula ke Bhutan selama 4 tahun. Baru-baru ini adik lelaki dan adik perempuannya meninggal dunia dalam kecelakaan mobil, bahkan dengan seizin His Holiness, Sonam memutuskan untuk tidak menghadiri pemakaman mereka di Bhutan. “Kematian adalah peristiwa yang alamiah dan setiap orang harus melewati jalur yang sama. Tidak ada sesuatu yang perlu disedihkan saat seseorang kehilangan anggota keluarganya. Itu adalah jalan kehidupan,” ujar Sonam.
Sebagian besar teman-teman kuliahnya berasal dari Ladakh dan Sonam berbicara bahasa Ladhaki dengan lancar. Namun mempelajari bahasa Ladhaki tidaklah sukar karena sama seperti bahasa Kurtoep, yang juga bisa diucapkannya. Sonam telah menyempurnakan bahasa Tibet-nya pula serta tidak memiliki kesulitan dalam mempelajari berbagai ajaran Buddha yang diajarkan dalam bahasa Tibet. Sebagai yang tertua dalam keluarga yang beranggotakan empat orang, Sonam menghabiskan tahun-tahun mudanya dengan memelihara sapi.











